NELSON HASIBUAN 27: Pergumulan Guru PAK di Indonesia dalam mengembangkan Kompetensi dan Profesi Keguruan


“YESUS GURU AGUNG MENJAWAB PERGUMULAN GURU PAK DI INDONESIA DALAM MENGEMBANGKAN KOMPETENSI DAN PROFESI KEGURUAN”

DAFTAR ISI
JUDUL
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I        PERMASALAHAN

BAB II       LANDASAN TEORITIS

BAB III     METODE PENELITIAN

BAB IV     HASIL PENELITIAN

BAB V       PEMBAHASAN/DISKUSI

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


JUDUL

Dalam pembahasan makalah ini penulis mengambil judul penelitian yaitu “Yesus Guru Agung menjawab pergumulan guru PAK di Indonesia dalam mengembangkan kompetensi dan profesi keguruannya.”

INTISARI (ABSTRACT)
PENGANTAR

            Di dalam melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai guru, khususnya guru Agama Kristen di Indonesia masih banyak yang masih harus dibenahi dan dipikirkan kembali apa-apa saja yang harus dikembangkan dalam menangapi zaman modern ini. Masih banyak pergumulan, tuntutan, kebutuhan yang harus  diemban oleh guru Agama Kristen, namun hal inilah yang akan menjadi dasar penulis untuk melakukan penelitian ini.

SUBJEK PENELITIAN

Dalam penulisan makalah ini, penulis menitikberatkan pada pokok pembahasan mengenai pergumulan guru PAK di dalam mengembangkan kompetensi dan profesi keguruannya. Guru menjadi salah satu subjek yang penulis amati dan teliti, karena merekalah pelaku pendidikan yang sebenarnya yang harus diperhatikan, dibantu untuk mengembangkan keprofesian dan kompetensinya di dalam proses belajar mengajar.
METODE

            Metode yang penulis lakukan dalam menyusun makalah ini ada beberapa hal, yaitu: dengan interviu (tanya jawab) beberapa guru Kristen dan studi pustaka.

HASIL PENELITIAN

Dalam penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dan masukan terhadap para guru Agama Kristen, khususnya yang ada di Indonesia mengenai pergumulan dalam profesi dan kompetensi keguruan.
Juga dalam pembahasan ini ada hal-hal yang penulis cantumkan yang harus diperhatikan guru Agama Kristen di dalam menjalankan tugas keprofesian dan tanggung jawab yang diembannya seperti: guru Agama Kristen harus yang sudah diselamatkan dan hidup di dalam Kristus, dewasa rohani yang mampu mengajar, memiliki hati untuk mendidik, memiliki kompetensi bidang yang di kembangkannya, memberi motivasi bagi siswa-siswinya, mengarahkan, serta memberikan masukan supaya membangun mereka dan memenangkan mereka untuk menjadi murid Kristus yang setia dan yang mampu bertahan dalam menghadapi tantangan zaman, serta mampu berinovasi dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur menjadi warga negara Indonesia, karena keanekaragaman di Indonesia, baik dalam budaya, suku, adat, kebisaan menjadikan pemahaman yang baru bagi penulis. Dan untuk itu penulis berusaha untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan ke depan yang harus diterapkan di dalam mendidik.
Di dalam proses belajar mengajar ada banyak komponen pendidikan yang mendukung untuk mensukseskan hal ini, diantaranya adalah guru. Banyak  buku-buku dan literatur yang sudah menuliskan ide-ide, masukan-masukan untuk memperbaiki pendidikan, khususnya di Indonesia. Akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan adanya kesediaan para guru untuk bergerak maju di dalam menjalankan tugas keprofesiannya.
Setelah penulis mengikuti perkuliahan profesi keguruan pada semester ini, penulis mendapatkan banyak hal yang dapat menambah perbendaharaan ilmu pendidikan penulis dalam proses belajar mengajar. Untuk itu dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai apa itu profesi keguruan, pergumulan-pergumulan guru, khususnya guru PAK dan masukan-masukan untuk memberikan kemajuan pendidikan di Indonesia.


BAB I
PERMASALAHAN

Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki keanekaragaman baik dari suku, bahasa, adat istiadat, dan budayanya. Indonesia menjadi negara karena adanya kesatuan dan persatuan yang dipegang, sehingga dibentuklah negara yang berasaskan kepada Pancasila.
Dalam proses belajar mengajar para guru biasanya menyiapkan materi pembelajaran yang akan disampaikan di dalam kelas, ini menjadi rutinitas yang membuat guru kurang mau untuk meningkatkan kompetensi dan keprofesiannya dalam belajar. Sementara itu guru harus menghadapi siswa-siswi yang beranekaragam dan kebutuhan, pendekatan yang berbeda-beda pula.
Guru-guru di Indonesia menjadi contoh akan menjadi apakah nanti murid-murid yang diajar mereka: apakah berhasil, sukses, memiliki nilai jual di masyarakat, dan takut akan Tuhan itu akan terbukti seiring berjalannya waktu! Akan tetapi sebenarnya guru sudah menjadi contoh yang konkret dalam kehidupan, sikap, tingkah laku, kebiasaannya sedikit banyak akan ditiru dan diimitasi, diidentifikasi oleh murid-murid, meskipun ada banyak faktor yang lain juga.
Krisis multidimensional (moral yang menurun, menjadikan anak sebagai objek penghasilan, membocorkan UN, pemerkosaan, dan lain-lain) di Indonesia menjadi salah satu bahan pembahasan penulis dalam makalah ini, karena ada banyak peristiwa-peristiwa yang kita dengar mengenai identitas, kode etik guru yang mulai tercoreng apalagi ditambah dengan profesi dan kompetensinya yang tidak memiliki kriteria untuk mendidik. Mengapa hal tersebut terjadi? Padahal sudah ada pendidikan agama yang ditanamkan oleh setiap individu dalam hidupnya? Apakah itu tidak cukup atau hanya menjadi isapan jempol semata? Dan seperti menghiraukan Tuhan Sang Pencipta? Untuk itulah penulis akan membahasanya. Apakah yang dipegang dan dipercayai oleh guru Agama Kristen selama ini? Masih pentingkah Yesus di dalam setiap hidupnya atau mengandalkan diri sendiri? Mengapa terjadi kasus amoral dan pelecehan terhadap siswa-siswi? Kebutuhan siswa-siswi tidak terjawab, karena tidak sesuainya materi pembelajaran? Dan bagaimanakah cara Yesus mengajar yang sebenarnya menurut Injil Matius dan Yohaness? Serta metode, pendekatan apa yang Dia lakukan terhadap pendengarnya, murid-murid, para imam-imam, orang Farisi, dan lain-lain?
Dari masalah diatas penulis akan membahasnya dan lebih menyoroti kepada iman Kristen dan cara pengajaran Yesus yang sebenarnya, sehingga para pendidik Kristen dapat mengerti dan mengambil tindakan ke depan untuk lebih baik lagi dalam meningkatkan keprofesian dan kompetensi dan siap maju untuk menantang zaman ini.


BAB II
LANDASAN TEORITIS

Indonesia Negara Kesatuan Republik Indonesia
Masalah-Masalah Pendidikan
Setiap masalah pendidikan berkaitan erat dengan segi kehidupan yang lain, masalahnya bersifat kompleks, sesuai dengan kehidupan masyarakatnya. Seberapa besar keterkaitan suatu masalah pendidikan dengan masalah ekonomi atau masalah sosial lain dalam masyarakatnya. Secara sederhana masalah pendidikan dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu: masalah pemerataan, masalah  mutu, masalah efektifitas dan relevansi, masalah efesiensi.[1] Pertambahan penduduk yang cepat juga dapat menimbulkan masalah dalam segi pendidikan yang berkaitan erat dengan meledaknya jumlah anak usia sekolah. Masalahnya dapat dibedakan sebagai masalah kekurangan kesempatan belajar, rendahnya mata pendidikan, ketidaksesuian antara pendidikan dengan kebutuhan mayarakat dan masalah efisiensi serta efektifitas pelaksanaan pendidikan. Masalah ekonomi mempengaruhi pendidikan, karena memiliki tingkatan yang berbeda, yaitu ekonomi tingkat atas, menengah dan tingkat bawah. Karena banyak yang beranggapan bahwa biaya untuk sekolah itu mahal.

Pengertian Profesionalisme Guru
Profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webster, 1989).[2]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengenai profesioanal adalah bersangkutan dengan profesional, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.[3] Profesi menunjukkan bahwa guru memiliki keahlian dan kompetensi khusus oleh karena melalui pekerjaan sebagai pendidik, ia mampu menciptakan peserta didik yang cerdas serta berperilaku sesuai yang diharapkan, maka ia wajib juga memperoleh imbalan berupa upah dan gaji (payment).[4]
Guru mengembankan tugas sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) tahun 2003, dalam pasal 39 ayat 1. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Ayat 2. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik para perguruan tinggi.[5]
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Selanjutnya Junihot Simanjuntak menjelaskan bahwa “Menurut UU Guru dan Dosen Np. 14 Tahun 2005 pada BAB II, Pasal 2 Ayat 1: guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ayat 2: pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksudkan pada ayat 1, dibuktikan dengan sertifikat pendidik.”[6]
Menurut Wina Sanjaya, dalam bukunya “kurikulum dan pembelajaran” bahwa untuk meyakinkan bahwa guru sebagai pekerjaan profesional ada syarat-syaratnya yaitu: (1) pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin didapatkan dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai, sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (2) suatu profesi menekankan kepada suatu keahlian dalam bidang tertentu yang spesifik sesuai dengan jenis profesinya, sehingga antara profesi yang satu dengan yang lainnya dapat dipisahkan secara tegas. (3) tingkat kemampuan dan keahlian suatu profesi didasarkan kepada latar belakang pendidikan yang dialaminya yang diakui oleh masyarakat, sehingga semakin tinggi latar belakang pendidikan akademis sesuai dengan profesinya, semaki tinggi pula tingkat keahliannya dengan demikian semakin tinggi pula tingkat penghargaan yang diterimanya. (4) suatu profesi selain dibutuhkan oleh masyarakat juga memiliki dampak terhadap sosial kemasyarakatan, sehingga masyarakat memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap efek yang ditimbulkannya dari pekerjaan profesinya itu.[7]
            Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu. Artinya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui pendidikan dan pelatihan secara khusus.

Kompetensi
Pengertian kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Kompetensi guru tersebut meliputi: pertama, kompetensi intelektual, yaitu berbagai perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu yang diperlukan untuk menunjang berbagai aspek kinerja sebagai guru. Kedua, kompetensi fisik, yaitu perangkat kemampuan fisik, yaitu perangkat kemampuan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas sebagai guru dalam berbagai situasi. Ketiga, kompetensi pribadi, yaitu perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri untuk melakukan transformasi diri, identitas diri, dan pemahaman diri. Keempat, kompetensi sosial, yaitu perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta tercapainya interaksi sosial secara efektif. Kelima, kompetensi spiritual, yaitu pemahaman, penghayatan, serta pengalaman kaidah-kaidah keagamaan.[8]

Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab
Bilakah pendidikan agama Kristen mulai? Pendidikan agama Kristen berpangkal kepada persekutuan umat Tuhan di dalam Perjanjian Lama. Jadi pada hakikatnya sudah terdapat dalam Sejarah Suci purbakala. PAK itu mulai dengan terpanggilnya Abraham menjadi nenek-moyang umat pilihan Tuhan, bahkan PAK berpokok kepada Allah sendiri, karena Allah yang menjadi Pendidik Agung bagi umat-Nya. Oleh sebab itu, untuk menemukan akar-akar dari PAK itu, haruslah kita menggali dalam Alkitab, tempat Tuhan menyatakan rahasia keselamatan-Nya kepada bangsa Israel. Alkitab itu satu-satunya sumber pengetahuan kita mengenai rencana keselamatan itu... melukiskan dengan terang bagaimanakah wujud dan maksud pendidikan agama itu... dengan maksud untuk mengajar dan mendidik para pembaca yang beriman.[9]
Istilah PAK dibedakan dengan istilah Pendidikan Kristen (PAK) karena PAK merupakan pendidikan yang berporos pada pribadi Tuhan Yesus Kristus dan Alkitab (firman Allah) sebagai dasar atau sumber acuannya ... . PAK yang alkitabiah harus mendasarkan diri pada Alkitab sebagai firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pusat beritanya dan harus bermuara pada hasilnya, yaitu mendewasakan murid.[10]
PAK dalam Perjanjian Lama
Nenek moyang kaum Israel, Abraham, Ishak dan Yakub menjadi guru bagi seluruh keluarganya. Sebagai bapak-bapak dari bangsanya, mereka bukan saja menjadi imam yang merupakan pengantara antara Tuhan dengan umat-Nya, tetapi juga menjadi guru yang mengajarkan tentang perbuatan-perbuatan Tuhan yang mulia itu dengan segala janji Tuhan yang membawa berkat kepada Israel turun-temurun. Tuhan memilih dan memanggil Abraham dari jauh untuk melayani kehendak-Nya yang agung itu guna keselamatan seluruh umat manusia. Bimbingan dan maksud Tuhan itu perlu dijelaskan kepada segala anak-cucunya.[11]
            Pendidikan Agama dalam PL dimulai dari perpindahan Abraham dari daerah sekitar sungai Efrat dan Tigris menuju Kanaan. Allah berjanji kepada Abraham bahwa keturunanya akan menjadi bangsa yang besar (Kejadian 12:2-3). Umat Yahudi pada umumnya dan setiap keluarga pada khususnya ditugaskan untuk menyampaikan kekayaan iman bangsa pilihan Allah ini kepada generasi baru. Pusat pendidikan agama terletak pada keluarga, terutama ayah yang bertanggung jawab dalam pendidikan agama kepada keluarganya (Ulangan 6:4-9). Pengajaran agama dalam PL berpusat pada Hukum Allah dan Kurban melalui sistem imamat (Keluaran 20:1-17; Ulangan 6:4-9).[12]
Ishak, Yakub, Yusuf meneruskan pengajaran yang penting itu kepada anak-anaknya, menanamkan dalam batin anak-anaknya... Tuhan mau memakai bangsa Israel sebagai alat-Nya. Atas perintah Tuhan keinsyafan itu dipupuk dan diperdalam, dengan jalan pengajaran kepada tiap-tiap angkatan muda. Nabi Musa dipilih untuk membebaskan umat-Nya dari penindasan... menjadi guru dan pemberi hukum-hukum... mendidik mereka di padang belantara dan mengatur pendidikan itu dengan jitu dan tepat agar dilanjutkan pula oleh penganti-pengantinya kemudian. Zaman Para Hakim, di mana muncul seorang pemimpin dan guru yang besar, ialah Samuel, dan kepada tokoh-tokoh para nabi... mereka mengajarkan Firman Tuhan dengan rajin dan setia supaya umat Israel kembali kepada sumber keselamatanya. Pendidikan diselenggarakan imam-imam dalam Bait Suci... menerangkan, memelihara,... mengajarkan undang-undang. Tiap-tiap keturunan orang Israel menyampaikan pula segala pengajaran dan peraturan itu kepada keturunan yang berikut. Proses ini berlangsung terus beratus-ratus tahun lamanya.[13]

PAK dalam Perjanjian Baru
            Tema pokok pengajaran agama dalam PL dan PB adalah karya penyelamatan manusia oleh Allah. Dalam PB dinyatakan dalam pribadi Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Dengan demikian pendidikan agama dalam PL dan PB mempunyai pusat pengajaran pada satu pribadi, yaitu Kristus.

Yesus Guru Agung
Disamping jabatan-Nya sebagai Penebus dan Pembebas, Tuhan Yesus juga menjadi seorang Guru Yang Agung. Keahlian-Nya sebagai seorang guru umumnya diperhatikan dan dipuji oleh rakyat Yahudi; mereka dengan sendirinya menyebut Dia “Rabbi”. Sebab Ia mengajar mereka “sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat yang biasa mengajar mereka” (Mat. 7:29). Tuhan Yesus mengajar di mana saja: di atas bukit, dari dalam perahu, di sisi orang sakit, di tepi sumur, di rumah yang sederhana dan di rumah orang kaya, di depan pembesar-pembesar agama dan pemerintah, bahkan sampai di kayu palang (salib) sekalipun. Tuhan Yesus tidak memerlukan sekolah atau gedung yang tertentu. Tiap-tiap keadaan dan pertemuan dipergunakan-Nya untuk memberitakan Firman Allah... tidak terikat pada waktu tertentu... pada setiap saat Ia bersedia menerangkan Jalan Keselamatan dan Kerajaan Sorga ... . Setiap orang itu dikenal-Nya, dan dipahami-Nya masalah-masalah yang dipergumulkan orang ... . Cara mengajar-Nya supaya mereka berpikir sendiri dan menarik kesimpulannya sendiri dari apa yang telah dijelaskan-Nya kepada mereka ... . Seringkali pendengarnya mengeraskan hatinya. Metode yang dipakai-Nya yaitu: Yesus bercerita, Ia memakai perumpamaan-perumpamaan, Ia mengemukakan pertanyaan-pertanyaan, memperhatikan apa yang dimaksudkan-Nya seperti Dia memeluk anak-anak dan memberkati mereka, membasuh kaki mereka untuk mengajar mereka supaya rendah hati. Bahkan seluruh kehidupan Tuhan Yesus sendiri merupakan pengajaran sampai saat yang terakhir, karena justru dalam sengsara dan kematian-Nya Ia mengajar kita tentang satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia yang berdosa. Di atas Bukit Golgota Ia menyuguhkan segala pengajaran-Nya dengan pengorbanan Diri-Nya sendiri.[14]

Paulus
Paulus sendiri didik untuk menjadi seorang rabbi bagi bangsanya. Ia mahir dalam pengetahuan akan Taurat dan ia dilatih untuk mengajar orang lain tentang agama kaum Yahudi ... . Kemanapun Paulus pergi, segala kesempatan dipergunakannya untuk mengajar orang Yahudi dan kaum kafir tentang kehidupan bahagia yang terdapat dalam Injil Yesus Kristus. Ia mengajar raja-raja dan wali-wali negeri, orang cendekiawan dan kaum budak, orang laki-laki dan kaum wanita, orang Asia, orang Yunani, orang Romawi ... . Paulus mengajar di rumah-rumah tempat ia menumpang, di gedung-gedung yang disewanya, di lorong-lorong kota atau di padang-padang, di atas kapal dan dalam bengkelnya, di pasar dan dalam kumpulan kaum filsuf, ... mengajar melalui surat-surat.[15]
            Rasul Paulus mengidentikkan pendidikan sebagai proses pendewasaan atau peneguhan iman. Setelah kematian Kristus, mereka harus berakar dalam Kristus, dibangun di atas Kristus, supaya iman mereka semakin teguh. (Kolose 2:6-7).[16]

Jemaat Mula-Mula
Sejak mulai berdirinya maka jemaat Kristen menjunjung pengajaran agama. Seperti diketahui, orang-orang Kristen muda itu mula-mula masih berpaut kepada adat agama Yahudi, tetapi lambat laun mereka mengembangkan perkumpulan-perkumpulannya sendiri. Di dalam perkumpulan itu mereka berdoa, berbicara tentang pengajaran dan perbuatan-perbuatan Tuhan Yesus Kristus, makan sehidangan dan merayakan Perjamuan Suci ... . Tugas mengajar itu tentu diserahkan khususnya kepada kaum guru yang telah mempunyai karunia dan latihan istimewa untuk pekerjaan yang mulia itu, tetapi seluruh jemaat tetap mendukung dan mendoakan mereka itu.[17]

BAB III
METODE PENELITIAN

Di dalam penelitan ini penulis memilih metode penelitian tinjauan langsung ke lapangan dan nara sumber yang berkecimpung di dalamnya. Yang menjadi subjek penelitan penulis adalah guru-guru yang ada di SMAK Trimulia jln. Dr. Junjunan 105 Bandung.
Mengapa penulis menetapkan subjek penelitian adalah guru, karena merekalah sebenarnya yang melakukan, mengalami, merasakan hal-hal yang terjadi selama berlangsungnya proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
Subjek penelitian saya adalah 7 orang, yang terdiri dari dua orang guru Agama, Biologi, Bahasa Inggris, dua orang guru Bimbingan Konseling, PKN. Dan metode yang penulis gunakan adalah metode wawacara secara langsung (face to face), dan bersifat rahasia, dan juga tinjauan langsung mengenai kegiatan proses belajar mengajar di dalam kelas.

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Pentingnya Struktur
Tujuan belajar yang utama ialah bahwa apa yang dipelajari itu berguna di kemudian hari, yakni membantu kita untuk dapat belajar terus dengan cara yang lebih mudah ... . Tujuan pembelajaran bukan hanya pengusaan prinsip-prinsip fundamental yang berarti harus yang ahlinya mengatasi hal tersebut, yaitu: kurikulum harus dirombak dengan memberi peranan utama kepada prinsip-prinsip yang fundamental dalam tiap mata pelajaran, bahan pelajaran harus disesuaikan dengan kemampuan murid yang berbeda-beda di berbagai kelas. Melainkan juga mengembangkan sikap yang positif terhadap belajar, penelitian, dan penemuan serta pemecahan masalah atas kemampuan sendiri.[18] Tugas guru yang utama bukan lagi menyampaikan pengetahuan, melainkan memupuk pengertian, membimbing mereka untuk belajar sendiri. Kemampuan untuk menemukan sendiri dan belajar sendiri dianggap dapat dipelajari.[19] Belajar akan lebih berhasil, bila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan dan minat anak. Diketahui pula bahwa setiap anak itu berbeda secara individual ini perlu mendapat perhatian yang lebih banyak.[20] Fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke arah suatu tujuan yang kita nilai tinggi. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil  membawa semua anak-didik kepada tujuan itu. Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua anak. Tujuan guru mengajar adalah agar bahan yang disampaikannya dikuasai sepenuhnya oleh semua murid, bukan hanya oleh beberapa orang saja yang diberikan angka tertinggi. Pemahaman harus penuh, bukan tiga perempat, setengah, atau seperempat saja.[21]

Mengapa Mengajar
Yakobus mengatakan dalam tulisannya pasal 3 ayat 1: “... janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kamu tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” Apa yang dikatakan Yakobus itu memang benar sekali. Betapa tidak? Tanggung jawab seorang guru membimbing para siswa adalah tugas yang amat berat. Menurut Yakobus sendiri dalam tulisan selanjutnya sangat jelas bahwa apa yang akhirnya menjadi tujuan mengajar bagi seorang guru adalah menolong seorang  mencari dan menemukan kebenaran.[22]
Untuk itu kita memerlukan inspirator dan motivator dalam hidup dan karya kita. Tuhan Yesus yang telah memanggil kita menjadi penerusnya, berkata: “Marilah kepadaku... belajarlah kepadaku...” (Matius 4:19). Keefektifan menjadi pendidik, pengajar, dan pemberi pengaruh nilai hidup bagi anak didik, kita harus memandang kepada Yesus Sang Guru Agung dengan membaca, meneliti kitab-kitab Injil, memadang Dia sebagai Juruselamat, melatih dan membina para murid untuk meneruskan tugas-Nya di dunia, mencetak pembelajar yang hebat.

BAB V
PEMBAHASAN/DISKUSI

Yesus Guru Agung menurut Injil Matius dan Yohanes
Guru Mencari Murid (Mat. 4:18)
Pembelajaran model guru mencari murid merupakan model yang terdapat pada guru-guru/rabi-rabi di kalangan Yahudi pada waktu itu. Para rabi selalu mencari murid-murid untuk dijadikan sebagai pengikutnya. Hal yang menarik pada laporan Matius adalah Yesus mencari murid dengan cara berjalan menyusur danau Galilea, model ini asing bagi para guru di zaman itu. Awal pencarian murid adalah orang-orang dewasa yang bekerja sebagai nelayan di danau Galilea. Yesus mencari dan menemukan murid-murid serta memanggil mereka menjadi pengikut (murid) dengan tujuan yang sangat jelas: “… . Kamu akan Kujadikan penjala manusia”.
Matius menarasikan Yesus seorang guru yang mencari murid dengan tujuan yang jelas, sebab dengan tujuan yang jelaslah maka akan mempengaruhi seluruh proses pembelajaran. Guru yang mengajar akan jelas sasaran, murid yang mengikuti proses pembelajaran pun jelas arahnya. Jadi, guru mencari murid dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Tujuan pembelajaran dalam Matius adalah Murid-murid mampu menjadi penjala manusia.

Dasar pembahasan tentang pokok kedua guru mendisain tujuan instruksional pembelajaran didasarkan pada Matius 4:19 yang isinya sebagai berikut: Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mari, ikutilah Aku adalah ajakan dan perintah. Ajakan dan perintah dari Guru Agung yaitu Yesus Kristus. Ajakan dan perintah yang membawa murid-murid-Nya pada tujuan dari ajakan dan perintah itu yaitu pada kata: Kamu akan Ku (Yesus) jadikan penjala manusia (Mat. 4:19). Berdasarkan data ini, telah menjadi jelas bahwa tujuan instruksi atau tujuan instruksional yaitu perubahan seperti apa yang hendak terjadi dalam diri para murid setelah mereka mengikuti pengajaran Yesus. Berdasarkan Matius 4:19 menjadi jelas bahwa perubahan yang diharapkan Yesus Guru Agung itu tidak lain adalah murid-murid mampu menjadi penjala ikan. Artinya melalui murid-murid itulah akan ada orang lain yang mendengar Injil Yesus Kristus dan menjadi percaya kepada Yesus Kristus.
Usaha atau perhatian terhadap kewajiban guru untuk memikirkan tujuan-tujuan instruksionalnya secara jelas telah menjadi perhatian positif. Keuntungan yang paling utama dari adanya perhatian pada tujuan-tujuan instruksional yang spesifik ialah adanya dorongan pada pihak guru untuk memikirkan pertanyaan: perubahan-perubahan apakah yang saya (guru) inginkan terjadi dalam diri siswa saya? Dengan kata lain model instruksional yang beracuan tujuan mula-mula memperhatikan soal perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh siswa pada akhir pengajaran. Setelah perilaku siswa yang diinginkan itu, yaitu tujuan dirumuskan secara spesifik, pemilihan prosedur pengajaran menjadi  mudah sekali dan pada umumnya, jauh lebih efektif. Perubahan apakah yang saya inginkan dalam diri siswa-siswi saya? Jadi, model pembelajarann Yesus Kristus menurut Matius ialah Guru mampu merumuskan dan memberithukan tujuan pengajaran yang jelas kepada peserta didik.[23]
Karena Dia adalah Guru dan Tuhan, maka sebagai murid-murid-Nya kita harus mengikuti teladan-Nya. Artinya, pemikiranNya, sikap dan gaya hidup-Nya semua itu mewarnai pola pikir, sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Saat Yohanes kepada gereja mula-mula tegas mengatakan bahwa siapa yang mengaku Yesus Tuhan ia wajib hidup sama seperti Dia telah hidup. "Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (1 Yoh 2:6). Rasul Paulus menegaskan bahwa kalau kita sudah menerima Yesus maka hidup kita, pikiran dan karya kita, harus berakar, berdasar dan dibangun di atas Dia. "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia..." (Kolose 2:6-7).
J.M. Price, dalam karya "Yesus Sang Guru" mengetengahkan kekagumannya juga terhadap pribadi dan praktek Yesus khususnya sebagai pengajar. Ada empat hal yang menarik yang dikemukakan oleh Price dari studinya terhadap hidup dan pekerjaan Yesus sebagai pengajar. Pertama, wewenang Yesus sebagai pengajar. Wewenang Yesus sebagai pengajar nyata dari pernyataan-Nya, pernyataan murid-murid dan pengakuan orang lain, seperti Nikodemus seorang tokoh Farisi (Yohanes 3:1-2). Wewenang itu nyata pula dalam perbuatan kasih-Nya bagi banyak orang. Dia mengajar atas dasar Firman Allah serta secara cakap membaca hati orang-orang yang dihadapi-Nya.
Kedua, kehebatan Yesus dalam menghadapi murid-murid-Nya dengan latar belakang yang berbeda. Murid-murid yang Dia latih dan bina, menurut Price ialah pribadi dan kelompok yang belum berkembang, impulsif, berdosa, kacau pikiran, bodoh, berprasangka dan tidak stabil.
Ketiga, Price menyimak Yesus sebagai pribadi yang mengajar secara terus terang dengan tujuan yang jelas pula. Tujuan Yesus dalam mengajar ialah membentuk cita-cita luhur dalam diri para murid-Nya, membentuk keyakinan yang teguh, memiliki hubungan dengan Allah dan sesamanya. Para murid didorong-Nya agar kreatif menghadapi masalah hidup sehari-hari dan memiliki watak yang bagus dalam menjalankan tugas pelayanan. Pengajaran Yesus berhasil dalam rangka mengangkat derajat para murid, mengubah kehidupan mereka agar percaya kepada-Nya.
Keempat, Yesus adalah pengajar dengan visi yang jelas dan besar yakni berkaitan dengan Kerajaan Allah. Menurut Price, Yesus senantiasa menyesuaikan pengajaran-Nya dengan keadaan dan kebutuhan para murid. Dia menyentuh suara hati mereka serta merangsang mereka untuk aktif berbuat. Bahan pengajaran Yesus diambil dari Perjanjian Lama diintegrasikan dengan peristiwa alam dan peristiwa yang hangat yang sedang terjadi. Dia menggunakan pepatah, ilustrasi, perumpamaan dalam memulai atau dalam menjalankan pengajaran. Bagi Price, susunan pengajaran pengajaran Yesus amat menarik, diawali pendahuluan, isi dan kesimpulan. Singkatnya, menurut price, metode Yesus amat variatif karena mencakup cerita, ceramah dan tanya jawab.

Cara Yesus mengajar sejalalan dalam perkataan dan tindakan-Nya
Persiapan dan perencanaan di dalam mengajar (baik mengenai silabus, rpp, alat peraga, dan lain-lain) adalah salah satu pendukung di dalam keberhasilan proses belajar mengajar di dalam kelas. Penulis mengajukan pertanyaan kepada para guru yang penulis teliti di Sekolah Trimulia, yaitu: apakah dalam jam pelajaran bapak/ibu selalu melakukan persiapan/perencanaan sebelum mengajar? Apakah bapak/ibu lebih mementingkan tuntasnya pembelajaran daripada siswa-siswi? Salary (upah/gaji) mencukupi atau tidak, sehingga mencari pekerjaan tambahan?[24] Jawaban mereka adalah sebagai berikut: terkadang memang tidak melakukan persiapan dalam mengajar karena tidak sempat, karena harus memenuhi kebutuhan keluarga dan itu menjadi salah satu tanggung jawab mereka. Mengenai tuntasnya pembelajaran kebanyakan para guru melakukan itu dan tidak terlalu menghiraukan siswa-siswi yang tidak memperhatikan ataupun mengantuk di dalam kelas. Sedangakan untuk gaji tergantung masa kerja guru tersebut dan pengabdiannya kepada sekolah dan yayasan.
Apakah ini yang dinamakan guru yang kompeten dan profesioanal? Tentu tidak! Penulis menangapi bahwa masalah inilah yang harus dipecahkan oleh pihak sekolah di dalam menjamin kehidupan para guru yang mengajar, sehingga tidak terganggu dalam mengajar dan tidak memikirkan mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tuntutan kebutuhan ekonomi menjadi kendala dalam melakukan perencanaan/persiapan dalam mengajar, karena itu tidak maksimal mengajar dan akibatnya apa yang disampaikan menjadi kabur dan siswa tidak mendapatkan apa-apa dari guru tersebut.
Guru harus melakukan persiapan/perencanaan dalam mengajar, seperti yang diungkapkan oleh H. Muhammad Ali dalam bukunya “Guru dalam proses belajar mengajar” perencanaan yang dibuat, merupakan antisipasi dan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dalam pengajaran, sehingga tercipta suatu situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Yang meliputi: tujuan apa yang hendak dicapai, bahan pelajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan, bagaimana proses belajar mengajar yang akan diciptakan oleh guru agar siswa mencapai tujuan secara efektif dan efisien, bagaimana menciptakan dan menggunakan alat untuk mengetahui atau mengukur apakah tujuan itu tercapai atau tidak.[25]
Menurut Herman Horne, The teaching situation involves (1) a teacher, (2) students, (3) environment, (4) curriculum, (5) aims, and (6) method ... . The aim of the teacher was probably to effect a great change in the life his student.[26] Terjemahan. Bahwa situasi mengajar meliputi (1) seorang guru, (2) pelajar, (3) lingkungan, (4) kurikulum, (5) tujuan, dan (6) metode ... . Tujuan dari guru adalah  berpengaruh besar kemungkinan mengubah kehidupan pelajarnya.
Mengajar yang sesungguhnya adalah bagaikan menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan orang lain belajar. Jadi apa yang dilakukan oleh guru atau pengajar adalah menyajikan materi atau bahan dan menciptakan lingkungan yang kondusif (mendukung), untuk terjadinya proses belajar di dalam peserta didik. Sudah tentu pengajar atau guru perlu terus belajar untuk diri mereka sendiri.[27]
Berikut ini pendapat dari Kennet  “Student of Scripture often study the content of the Gospels but tend to overlook the methodology of the Gospels. We need to remind ourselves that what Christ said and what He did we equally inspired by God. He could say in every scene and circumstance of His life, “I always do what pleases Him” (John 8:29).[28] Terjemahan: mempelajari Firman seringkali belajar isi dari Injil-Injil tetapi cenderung untuk melupakam metodologi dari Injil-Injil. Kita membutuhkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang Kristus katakan dan apa yang Dia lakukan sama-sama diinspirasi dari Allah. Dia katakan di setiap suasana dan keadaan dari hidup-Nya, “Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yohanes 8:29).
Selanjutnya Kenneth menjelaskan pula bahwa: “The Lord was distinctive as a Person. His birth, life, death, and ressurection were all unique. This uniqueness pervades His pedagogy as well. What Christ said and did were one. He never did anything that contradicted what he said. This congruence provides the consistent model because He fulfill all righteousness. The teaching of Jesus is great only if the content of His teaching conferms to reality. A creative teacher who teaches falsehood is not a great teacher.”[29] Terjemahan: Allah adalah pribadi yang khusus. Kelahiran, hidup, kematian, dan kebangkitan-Nya adalah semuanya khusus. Keunikan ini meliputi seluruh pedagogi-Nya. Apa yang Kristus katakan dan lakukan adalah satu. Dia tidak pernah melakukan apapun yang berlawanan dengan apa yang di katakan. Ini memberikan kesesuaian model secara konsisten sebab Dia dipenuhi seluruh kebenaran. Pengajaran Yesus adalah besar karena isi dari pengajaran-Nya memberi kenyataan. Guru yang kreatif yang mengajarkan kebohongan adalah tidak menjadi guru yang besar.
 
Cara Yesus mengajar dan metode-metode yang digunakan
Di dalam melaksakan proses belajar mengajar, guru dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan yang bertalian dengan dengan jawaban terhadap suatu pertanyaan, yakni bagaimana menyelenggarakan pengajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan yang direncanakan. Baik dalam penguasaan materi pelajaran, kemampuan menerapkan prinsip-prinisp psikologi, kemampuan menyelenggarakan proses belajar mengajar dan kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi baru.
Selanjutnya Matias memaparkan pula mengenai cara pengajaran Yesus adalah sebagai berikut: “Jesus teaches the “crowds,” that is, the people, his disciples, certain groups at hand, individuals, or the people’s religious leaders ... . How does jesus teach? The form and techniques of Jesus teaching are varied and are adapted to circumtance. We have dialogue and encounters, parables, figures of rhetoric (proverbs, paradoxes, irony, repetition, and soon), questions, and a great number of other techniques.[30] Terjemahan. Yesus mengajar “orang banyak” seperti, orang-orang, murid-murid, kelompok-kelompok tertentu di sisi-Nya, individu-individu, atau orang-orang pemimpin-pemimpin agama ... . Bagaimana Yesus mengajar? Cara dan teknik-teknik dari Yesus mengajar adalah bervariasi dan disesuaikan dengan keadaan sekitar. Kita mempunyai percakapan dan pertemuan-pertemuan, perumpamaan-perumpamaan, sosok dari kata-kata yang indah (pribahasa, ironi, pengulangan, dan segera), pertanyaan-pertanyaan, dan sebuah jumlah yang besar dari teknik-tekni yang lainnya.
Sementara Herman Horne mengatakan bahwa, “the method used was conversation, including questions and answers and a remarkable concrete illustration of working of the Spirit (John 3:8).[31] Terjemahan. Metode yang digunakan adalah percakapan, diantaranya pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban dan sebuah ilustrasi yang luar biasa konkrit dari pekerjaan Roh Kudus (Yohanes 3:8).
            Sedangkan Paulus Lilik Kristianto  dalam bukunya “Prinsip & praktik PAK” (2010: 14-17) mengatakan bahwa selama pelayanan-Nya di dunia ini, Tuhan Yesus memberi teladan dalam metode pengajaran-Nya untuk membangun kontak dengan para pendengar, terutama murid-Nya. Metode-metode tersebut adalah: memenangkan perhatian (menggunakan mata, mengundang pembicaraan, menanyakan pertanyaan, mengundang persahabatan, memanggil namanya, menggunakan kata-kata untuk menarik perhatian), menggunakan pertanyaan-pertanyaan (sebagai simulasi perhatian, menjernihkan pikiran, menekankan kebenaran, menerapkan kebenaran, menegur, meyakinkan, menguji), menggunakan ilustrasi dan cerita (memunculkan perhatian, menjelaskan suatu prinsip/ajaran, masuk ke dalam pengajaran, menerapkan kebenaran),  menggunakan ceramah atau khotbah (khotbah di bukit, pengajaran di bukit zaitun, pengarajaran di ruang atas), menggunakan benda atau objek (burung, bunga, rumput, anak kecil, pohon buah yang kering, uang koin, janda yang memberi persembahan, ladang yang menguning, pokok anggur dan rantingnya, mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus Kristus), menggunakan model (model mengajar yang bersasaran; Nikodemus, model untuk murid-murid-Nya seperti cara berdoa dan melayani).

Pentingnya guru menerima Yesus sebagai Juruselamat, bertobat sungguh-sungguh

Syarat yang mutlak mengenal Kristus ialah guru harus menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi. Ia juga harus mempunyai kepastian bahwa ia telah diselamatkan berdasarkan janji firman Allah. Guru harus menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.[32] Guru yang bersungguh-sungguh harus mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan; dengan demikian ia dapat membimbing anak-anak untuk menempuh hidup yang benar.
Sementara itu Pazmino mengatakan bahwa: “A summary of this work is wroth quoting at length to introduce the content and methodes of Jesus’ teaching: Jesus began by winning attention through openers that centered students’ interests; then he established some point of contact with his heares on the physical or spiritual plane. As a teacher, he was not only a tactician with methods but also a strategist with objectives. His greatest objective was to share with people that sense of union with the Father that he enjoyed. Jesus based his teaching on the vital problems in the lives of his students.”[33] Terjemahan. Sebuah ringkasan dari pekerjaan ini adalah kutipan kegusaran panjang untuk memperkenalkan isi dan metode-metode Yesus mengajar: Yesus memulai dengan memenangkan perhatian melewati pembukaan di tengah-tengah pelajar-pelajar, ketertarikan; kemudian mendirikan beberapan nilai dari hubungan dengan pendengar-Nya secara fisik atau kerohanian. Sebagai seorang guru, Dia tidak hanya ahli siasat dengan metode tetapi juga sebuah strategi secara objektif. Kebesaran objektif-Nya adalah untuk membagikan dengan orang bahwa kesatuan perasaan dengan Bapa dan Dia menikmati. Yesus mendasari pengarajaran-Nya dalam masalah yang vital di dalam hidup murid-murid-Nya.
Kenneth mengatakan bahwa: “One reason the Holy Spirit is necessary in Christian education is that the Christian teacher needs divine enabling. Only by the Holy Spirit can teachers be guided and enabled to teach the Bible and related subjects effectively. A spiritual taks involving spritual truths to meet spritual needs reguires power. Effectiveness in service demands salvation and yieldedness to the Holy Spirit. Seeking to serve the Lord in one’s own strengt apart from dependences on the Holy Spirit avails little by way of lasting results.”[34] Terjemahan. Salah satu alasan bahwa Roh Kudus adalah kebutuhan dalam pendidikan Kristen bahwa guru Kristen membutuhkan Tuhan. Guru hanya dapat mengajar dipimpin oleh Roh Kudus dan memungkinkan untuk mengajar Alkitab dan menghubungkan subjek secara efektif. Tugas kerohanian terdiri kebenaran rohani untuk memerlukan kuasa. Keefektifan dalam melayani permintaan keselamatan dan menyerahkan kepada Roh Kudus. Mengupayakan untuk melayani Tuhan di dalam satu kuasa bagian yang kuat dari ketergantungan dalam Roh Kudus berguna sedikit oleh jalan hasil yang terakhir.
Sementara Herman Horne, “He taught as one who had authority, and not as their teachers of the law ... . Jesus revealed our spiritual nature and capacities in a way we hardly understand, and certainly cannot imitate ... . Thinks of those “unschooled, ordinary men” (Acts 4:13) whom Jesus choose to be his students, and what forceful personalities they become under his tutelage ... . About all that Jesus began to do and to teach, I am the way and the truth and the life. If any one chooses to do God’s will, he will find out whether my teaching comes from God or whether I speak on my own.[35] Terjemahan. Dia sendiri mengajar dengan otoritas, dan tidak seperti ahli Taurat ... . Yesus menyatakan kealamian roh dan kapasitas di dalam menjalankan secara pengeritan yang keras, dan pasti tidak dapat diimitasi ... . Pikirkan mengenai “tidak sekolah, manusia yang luar biasa” (Kis. 4:13) yang mana Yesus memilih murid-Nya, dan apakah kepribadian pemimpin yang kuat mereka menjadi mengerti dibawah pengawasan-Nya ... . mengenai semuanya itu Yesus memulai untuk melakukan dan mengajar, Aku adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Apabila setiap orang memilih untuk melakukan kehendak Allah, dia akan medapatkan pengajaran yang datang dari Allah atau apapun yang Aku katakan datang daripada-Ku.
From Horne’s account it is possible to identity five principles of Jesus’ teaching practice: (Dari data Horne dimungkinkan untuk diidenfikikasi lima prinsip Yesus mengajar praktis)
1.    Jesus’ teaching was authoritative (Yesus mengajar dengan otoritas)
Jesus taught as one who had authority (Mark 1:14-15, 21-22), demonstrated by his action and words. (Yesus mengajar sebagai seorang yang  memiliki kuasa (Markus 1:14-15, 21-22), didemonstrasikan dengan tindakan dan firman.
2.    Jesus’ teaching was not authoritarian (Yesus mengajar tidak dengan otoriter)
Jesus specified the costs and demands of discipleship and encouraged his followers to make personal commitments of their choosing. Yesus khususnya menganti kerugian dan meminta murid-murid dan memberi semangat untuk mengikut-Nya untuk membuat pribadi yang berkomitmen mengenai pilihan mereka.
3.    Jesus’ teaching encouraged person think (Yesus mengajar memberi semangat untuk berpikir) Jesus stimulated serious thought and questioning in his teaching, and he expected his hearees to carefully consider their responses to the truths he shared. Jesus expected his students to search their minds and hearts in relation to his teachings and to consider the realities of life. Yesus serius mendorong memikirkan dan menanyakan pertanyaan-Nya, dan Dia mengharapkan pendengar-Nya untuk berhati-hati mempertimbangkan tanggapan-tanggapan mereka mengenai kebenaran dan membagikannya. Yesus mengharapkan murid-murid-Nya untuk mengetahui pikiran mereka dan hati dalam hubungan pengajaran-Nya dan mempertimbangkan kenyataan hidup.
4.    Jesus’ live what he taught (Yesus menghidupi apa yang diajarkan-Nya)
Jesus faithfully incarnated his message through his life and ministry.
Before commanding his disciples to serve and love one another as he had love them (Jhon 13:12-17, 34-45), Jesus demonstrated the full extent of his love by washing their feet. He then further demonstrated his love by laying down his life for his friends, his brothers and sisters (John 15:12-13). Yesus berjanji tepat mewujudkan pesan-Nya mengenai hidup dan pelayanan-Nya. Sebelum memerintahkan murid-murid-Nya untuk melayani dan mengasihi satu dengan yang lain Dia mengasihi mereka (Yohanes 13:12-17, 34-35), Yesus mendemonstrasikan secara penuh kasih-Nya dengan membasuh kaki mereka. Kemudian lebih lanjut Dia mendemonstrasikan kasih-Nya dengan membaringkan hidup-Nya dengan sahabat-Nya, saudara-saudara dan saudari-Nya (Yoh. 15:12-13).
5.    Jesus love those he taught (Yesus mencintai ajaran-Nya)
Jesus love his students in a way that indicates the deep longings of every heart for an intimate relationship with another person and with God. This relationship of love with Jesus was also characterized by an equal concern for truth as the Master Teacher comunicated it.[36] Yesus mengasihi murid-murid-Nya dalam jalan ditandai secara dalam keinginan dari setiap hati untuk jalinan keintiman dengan yang lain dan dengan Allah. Hubungan kasih ini dengan Yesus adalah karakter perhatian yang sama dari kebenaran sebagai Guru Agung dalam mengkomunikasikan itu.
Demikian juga Kennet memaparkan bahwa: “Christ Jesus was the Master Teacher par excellence because He Himself perfectly embodied the truth ... . He perfectly understood His pupils, and He used perfect methods in order to change people. He himself was “the way, the truth, and the life” (John 14:6). He knew all men individually and He knew human nature, what was in man generically (2:24-25).”[37] Terjemahan. Yesus Kristus adalah Guru Besar yang unggul sebab Dia sendiri sempurna mewujudkan kebenaran ... . Dia benar-benar mengerti murid-murid-Nya, dan Dia menggunakan metode-metode yang sempurna dalam mengubah orang. Dia sendiri adalah “jalan, kebenaranan hidup” (Yohanes 14:6). Dia mengetahui semua orang dan  Dia tahu kebiasaan manusia, apakah di dalam manusia khususnya (Yohanes 2:24-25).
Other times, someone is hurting physically, emotionally, or spiritually and needs a tangibel expresssion of love and concern. Whatever the case, teachers who reflect the Jesus model of living are usually the first to roll up their sleeves and help when an occasion present itself. And this helping activity is freguently done with students in tow.[38] Terjemahan. Di lain waktu, seseorang sakit secara fisik, emosi, atau rohani dan membutuhkan ekspresi yang nyata dari kasih dan perhatian. Apapun kasusnya, guru-guru harus merefleksikan Jesus sebagai model yang hidup biasanya yang pertama untuk menggulung lengan baju dan menolong ketika sebuah kesempatan itu hadir sendiri.

KESIMPULAN

Dalam dunia yang berubah, hanya satu yang tidak berubah, yakni Yesus Kristus yang bangkit, yang sama, kemarin, hari ini dan masa yang akan datang (Ibrani 13:8). Yesus Kristus adalah segala-galanya bagi kita yang beriman, seharusnya Injil mewarnai kehidupan dan profesi kita.
Kita dipanggil untuk mengajar, menjadikan pembelajar “murid-murid Kristus” (Matius 28:19-20). Mengelola kegiatan dan pendidikan dan pembelajaran, dengan prinsip-prinsip yang diteladankan-Nya. Kita harus mengingat kesuksesan mengajar kita bukan semata-mata oleh kemampuan dan keterampilan rekayasa pembelajaran kita. Kesuksesan mengajar kita adalah merupakan pekerjaan Roh Allah melalui diri dan karya kita.
Yesus mendasarkan kehidupan-Nya dalam ketergantungan dalam Bapa dan Roh Kudus. Roh Kudus menguasai kehidupan Yesus. Kehidupan doa Yesus juga menjadi teladan yang tak bisa diabaikan, jika ingin meraih sukses dan kemenangan dalam hidup dan pekerjaan. Selain itu, Yesus senantiasa berdasarkan pada Kitab Suci dalam pekerjaan-Nya. Dia benar-benar memahami arti dan dinamika Injil Kerajaan Allah itu. Selain jalan salib merupakan pilihan utama bagi diri-Nya, visi sorga dan Kerajaan Sorga juga amat terang dalam kehidupan dan pemikiran Yesus.

KRITIK DAN SARAN
Dunia pendidikan zaman sekarang ini tidak hanya memerlukan teori-teori saja, melainkan pribadi-pribadi yang mau membangkitkan, memajukan pendidikan di Indonesia.
Perlunya dibentuk perkumpulan guru-guru Kristen yang berwawasan luas yang melihat manusia secara holistik yang merumuskan mengenai pendidikan Kristen yang kontekstual. Membuat seminar-seminar pendidikan Kristen yang bermutu, berkualitas, dan berdasarkan Alkitab. Membentuk wadah untuk links ke pemerintahan dan dirjen Bimas Kristen dalam mengembangakan profesi dan kompetensi pendidikan Kristen di Indonesia. Serta guru yang mau belajar kepada Yesus Sang Guru Agung.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ali, H. Muhammad. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007.

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Friedeman, Matt. The Master Plan of Teaching. USA: Victor Books, 1990.

Ganggel, Kenneth O. & Hendricks, Howard G. The Christian Educator’s Handbook On Teaching. USA: Victor Books, 1971.

Homrighausen, E.G. dan Enklar, I.H. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Horne, Herman. Jesus The Teacher (Examining His Expertise in Education). USA: Kregel Publication, 1998.

Ismail, Andar. Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

Simanjuntak, Junihot. Profesi Keguruan. Bandung: STT Kharisma, 2012.

Karli, Hilda. Apa, Mengapa, Dan Bagaimana Sertifikasi Guru Dilaksanakan? Bandung: Generasi Info Media, 2009.

Kasan, Tholib. Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Studia Press, 2009.

Kristianto, Paulus Lilik. Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen (Penuntun bagi Mahasiswa Teologi & PAK, Pelayan Gereja, Guru Agama, dan Keluarga Kristen). Yogyakarta: Andi Offset, 2006.

Kunandar. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2007.

Lewis, Leila. Mengajar Untuk Mengubah Kehidupan. Bandung: Kalam Hidup, 2003.

Nasution, S. Berbagai Pendekatan dalam Proses   Belajar & Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Nuhamara, Daniel. Pembimbing PAK. Bandung: Jurnal Info Media, 2007.

Pazmino, Robert W. God Our Teacher (Theological Basics in Christian Education. Michigan: Bacer Academic, 2001.

Preiswerk, Matias. Education the Living Word (A Theoretical Framework for Christian Education. New York: Orbis Book, 1987.

Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009.

Yamin, H. Martinus. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2007.


[1]Tholib Kasan, Dasar-Dasar Pendidikan (Jakarta: Studia Press, 2009), hlm. 163.

[2]Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), hlm. 45.

[3]Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 789.

[4]Hilda Karli, Apa, Mengapa, Dan Bagaimana Sertifikasi Guru Dilaksanakan? (Bandung: Generasi Info Media, 2009), hlm. 11.

[5]H. Martinus Yamin, Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2007), hlm. 19.

[6]Junihot Simanjuntak, Profesi Keguruan (Bandung: STT Kharisma, 2012), hlm. 4.

[7]Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 275.
[8]Ibid., hlm. 55.

[9]E.G. Homrighausen dan I.H. Enklar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm.1-2.
[10]Paulus Lilik Kristianto, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen (Penuntun bagi Mahasiswa Teologi & PAK, Pelayan Gereja, Guru Agama, dan Keluarga Kristen (Yogyakarta: Andi Offset, 2010), hlm. 1.

[11]Ibid.,  hlm. 2-3.

[12]Ibid., hlm. 9-10.
[13]Ibid.,  hlm. 3-4.
[14] Ibid.,  hlm. 5-6.

[15]Ibid.,  hlm. 6-7.

[16]Ibid., Paulus Lilik Kristianto, hlm. 5.

[17]Ibid.,  hlm. 8-9.
[18]S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 3-4.

[19]Ibid., hlm. 21.

[20] Ibid., hlm. 23.
[21]Ibid.,  hlm. 35.

[22]Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hlm. 90.

[24]Agus Setyono, et. al. “Guru-Guru Sekolah Menengah Atas Trimulia Junjunan-Bandung,” wawancara oleh Nelson Hasibuan, Bandung, 10, 17, 24 Februari 2012.

[25]H. Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007), hlm.4-5.

[26]Herman Horne, Jesus The Teacher (Examining His Expertise in Education) (USA: Kregel Publication, 1998), hlm. 11.

[27]Daniel Nuhamara, Pembimbing PAK (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), hlm. 134-135.

[28]Kenneth O. Ganggel & Howard G. Hendricks, The Christian Educator’s Handbook On Teaching (USA: Victor Books, 1971), hlm. 13.


[29]Ibid., hlm. 14.
[30]Matias Preiswerk, Education the Living Word (A Theoretical Framework for Christian Education (New York: Orbis Book, 1987), hlm. 67-68.

[31]Ibid., Herman Horne, hlm. 11.

[32]Leila Lewis, Mengajar Untuk Mengubah Kehidupan (Bandung: Kalam Hidup, 2003), hlm. 74.

[33]Robert W. Pazmino, God Our Teacher (Theological Basics in Christian Education (Michigan: Bacer Academic, 2001), hlm. 71.

[34]Ibid., Kenneth O. Ganggel & Howard G. Hendricks, hlm. 32.

[35]Ibid., Herman Horne, hlm. 130.

[36]Ibid., Robert W. Pazmino, hlm. 72-73.

[37]Ibid., Kenneth O. Ganggel & Howard G. Hendricks, hlm. 15.

[38]Matt Friedeman, The Master Plan of Teaching (USA: Victor Books, 1990), hlm. 150.

Komentar

Anonim mengatakan…
pak nelson saya mau ambil data bapak, supaya sya bisah belajar membuat makalah
trimakasih atas datanya
Unknown mengatakan…
I beg permission pack download the file gentlemen, thank you jesus god bless
Unknown mengatakan…
sangat menambah wawasan. terimakasih pak nelson.